June 18, 2009

Penyerapan asimilasi dalam peradaban Islam

Posted in Islam at 10:51 pm by Ahmad Salafi

Proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan dalam peradaban Islam diawali dengan adanya gerakan penterjemahan karya-karya dari luar dunia Islam ke dalam bahasa Arab, dan ia mencapai puncaknya pada era Kerajaan Abassiyah. Pemikiran yang terdapat dalam karya-karya yang diterjemahkan itu kemudian mempengaruhi pemikiran para intelektual Islam. Pemikiran tersebut mereka serap untuk diintegrasikan ke dalam pemikiran bagi memperkayakan peradaban Islam.

Era kekuasaan Abassiyah dianggap zaman keemasan peradaban Islam. Berkembangnya pemikiran intelektual dan keagamaan pada tempoh ini antara lain kerana kesediaan umat Islam untuk menyerap budaya dan khazanah peradaban besar dan mengembangkannya secara kreatif. Pada era itu, sikap umat Islam yang terbuka terhadap seluruh umat manusia mendorong orang-orang bukan Arab (mawali) untuk masuk Islam. Kelompok ini ikut serta memberikan sumbangan bagi kemajuan peradaban. Para ilmuwan pada masa itu menduduki posisi penting.

Perluasan Islam tidak saja telah memperbanyakkan penganut Islam, tetapi juga ikut membangun suatu bentuk peradaban Islam. Perluasan wilayah Islam ini dalam waktu yang begitu singkat memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk belajar daripada pelbagai kelompok masyarakat yang telah memiliki tradisi keilmuan yang maju.

Dalam waktu yang bersamaan, hal ini juga menjadi tentangan bagi para ulama untuk mempertahankan dan membela agamanya. Serangan dan tentangan pelbagai agama yang telah lama berkembang sebelum Islam, dengan sistem teologi dan tradisi keagamaannya yang khas, telah mendorong para ulama untuk menyusun dasar-dasar keyakinan (teologi) dan hukum Islam yang kukuh. Oleh kerana itu, ilmu tauhid/kalam, fikih, usul fikih mengalami perkembangan. Hubungan umat Islam dengan umat yang memiliki peradaban lain yang sangat maju, seperti India, Mesir dan Yunani mendorong umat Islam untuk menyerap khazanah peradaban tersebut.

Selain itu, faktor ajaran Islam sendiri juga menjadi penting bagi pengembangan peradaban. Al-Quran, sebagai sumber normatif, memiliki kedudukan yang sangat khusus dan memainkan peranan utama dalam kehidupan kaum Muslim, kerana sentiasa menjadi sumber inspirasi keagamaan dan keilmuan. Bahkan pihak-pihak yang bertikai merujuk dan menggunakan ayat al-Quran sebagai alasan pendirian dan tindakan masing-masing. Pada abad kesembilan, hadis juga telah mendapatkan kedudukan penting dalam kehidupan keagamaan Muslim. Pada masa itu hadis rujukan telah dibukukan.

Kehidupan intelektual di zaman Dinasti Abassiyah diawali dengan berkembangnya perhatian pada perumusan dan penjelasan panduan keagamaan terutama dari dua sumber utama ini, ilmu-ilmu lain kemudian berkembang. Ilmu-ilmu al-Quran dan ilmu-ilmu hadis adalah dua serangkai siri pengetahuan yang menjadi pokok perhatian dan fokus pendidikan ketika itu.

Kemajuan peradaban Islam era Abassiyah ini juga ditandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keislaman lain yang meliputi teologi/ilmu kalam dan fikih.

Salah satu ilmu yang sangat menarik perhatian umat Islam di zaman ini adalah ilmu kedoktoran (at-Tibb). Yayasan latihan perubatan peninggalan zaman Bizantium di Antiokia dan Harran di Suriah serta di Iskandariah Mesir yang sudah lemah, pada era ini kemudian dibangkitkan kembali. Di wilayah timur ada sekolah khusus kedoktoran di Jundishapur Susiana, warisan era keemasan Sasaniah.

Dengan semakin banyaknya kitab kedoktoran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, muncullah doktor Muslim yang secara terus-menerus mendalami dan mengembangkannya. Di antara para doktor tersebut ialah Muhammad bin Zakaria ar-Razi (Rhazes), yang hidup antara tahun 865-925M. Ia berjasa besar dalam mempelajari dan mengubati penyakit campak (small pox) dan cacar (measles).

Pada masa itu, matematik dan astronomi juga berkembang. Karya Claudius Ptolemaeus (ahli astronomi sekitar 100-178SM), Megale Syntaxis, diterjemahkan atas perintah Khalifah al-Mamun oleh al-Hajaj bin Yusuf, yang sebelumnya juga menghadiahkan terjemahan kitab Elements karya Euclides (ahli matematik sekitar 300SM) kepada Khalifah Harun ar-Rasyid.

Pengetahuan umat Islam dalam bidang ini juga diperkaya dengan warisan ilmu dari India. Muhammad bin Ibrahim al-Fazari, penterjemah pada era Khalifah al-Mamun, misalnya menyadur buku astronomi India terkenal, Zij as-Sindhind (table astronomi) dan mempersembahkannya kepada Khalifah al-Mansur.

Setelah menguasai ilmu-ilmu warisan Yunani dan India ini, al-Khawarizmi menuangkan hasil penelitian dan pemikiran yang gemilang dalam bidang aljabar, yang menabalkan namanya hingga saat ini dalam istilah algoritma.

Berkembangnya pelbagai cabang ilmu pengetahuan tersebut adalah usaha dan kegigihan khalifah yang banyak menyediakan kemudahan-kemudahan. Usaha pengumpulan naskhah asing dan penterjemahannya ke bahasa Arab terus digalakkan.

Meluasnya usaha ini banyak disebabkan oleh dukungan Khalifah al-Mamun dan khalifah sesudahnya. Al-Mamun antara lain, mengembangkan Yayasan Baitulhikmah (Bait al-Hikmah) yang menjadi pusat segala kegiatan keilmuan. Di yayasan ini para penerjemah berkumpul, baik Muslim mahupun bukan Muslim, bekerjasama mengalihbahasakan pelbagai naskhah kuno dan menyusun berbagai-bagai penjelasan serta komentarnya.

Di yayasan ini juga, Abu Yusuf Yaqub al-Kindi (801-869M), misalnya tidak saja menggali dan menyinarkan kembali filsafat Yunani, tetapi juga memperluas horizon pemikiran umat Islam. Perhatian keilmuannya mencakupi bidang yang sangat luas, tidak saja masalah logika, tetapi juga sejarah alam, meteorologi serta kimia, bahkan ilmu ketenteraan.

Kegemilangan peradaban Islam dicapai kerana kebijaksanaan daulah Abassiyah dan juga faktor terjadinya asimilasi dalam Dinasti Abassiyah dan penyerapan unsur-unsur bukan Arab (terutama bangsa Persia) dalam pembinaan kemajuan dalam banyak bidang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: